Tampilkan postingan dengan label kebersamaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kebersamaan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 September 2025

Ketika Oncom Memisahkan, Jengkol Menyatukan

 


Aku dan istriku itu ibarat dua aplikasi yang nggak kompatibel, tapi entah kenapa kalau dipaksa buka bareng, malah jadi seru. Dari soal makanan aja, udah beda dunia. Dia bisa bahagia luar biasa ketemu pasta, kwetiaw, atau oncom. Aku? Paling banter soto dan nasi hangat plus panggang. Kalau ada oncom di meja, mending aku bikin mie goreng instan.

Tapi anehnya, ada satu makanan yang bikin kami seperti menemukan bahasa yang sama: jengkol. Bayangkan, semua perbedaan bisa hilang begitu piring jengkol mendarat. Yang biasanya debat soal “makan di luar atau masak sendiri,” tiba-tiba berubah jadi “ayo bareng-bareng serbu jengkol.” Romantis? Entahlah. Tapi jelas aromanya nggak bisa bohong: kami bersatu.

Sabtu, 13 September 2025

Pelukan Sebelum Tidur: Jejak Hangat yang Tak Pernah Hilang

 


“Selamat tidur, Mama. Selamat tidur, Papa.”

Kalimat sederhana yang dulu selalu terdengar setiap malam di rumah kami. Diiringi pelukan kecil dari tangan-tangan mungil yang kini telah beranjak remaja. Seingatku, kebiasaan itu mulai memudar ketika mereka masuk bangku SMP—bukan karena cinta yang berkurang, mungkin hanya karena mereka merasa sudah “dewasa”. Namun jauh di dalam hati, aku yakin pelukan-pelukan kecil itu meninggalkan jejak yang dalam.

Dari sudut pandang psikologis, pelukan pada anak bukan sekadar sentuhan fisik. Sentuhan lembut dan penuh kasih itu menstimulasi produksi hormon oksitosin—hormon yang sering disebut sebagai “hormon cinta”. Oksitosin membantu menurunkan kadar stres, memperkuat rasa aman, dan membangun ikatan emosional yang kuat antara anak dan orang tua. Saat anak merasa diterima dan dicintai, mereka tumbuh dengan rasa percaya diri yang lebih baik, dan memiliki kemampuan lebih besar untuk membangun hubungan yang sehat di kemudian hari.

Minggu, 07 September 2025

Sepenggal Cerita di Jalan Pulang



 Di antara padatnya jalan pulang sekolah, ada ruang kecil yang seringkali terisi oleh cerita. Bukan cerita besar yang akan masuk buku sejarah, bukan pula kisah dramatis yang mengguncang dunia. Hanya obrolan sederhana, kadang berulang, kadang dianggap menyebalkan. Namun justru di situlah sebuah kenangan perlahan disulam.

Amazia duduk di kursi samping, matanya berat menahan kantuk, sementara Aku sambil menyetir tak pernah kehabisan bahan cerita. Kisah-kisah itu mengalir tanpa jeda, seolah jalanan macet adalah panggung. Bagi Amazia, kadang cerita itu terasa mengganggu, apalagi saat lelah menumpuk. Tapi di balik kejengkelan kecilnya, ada sesuatu yang diam-diam ia simpan.

Julius Deliawan, bukan hanya seorang guru sejarah, Ia adalah pengajar kehidupan di dalam keluarganya. Sejak muda, Julius sudah terbiasa berpindah tempat, menyesuaikan diri, dan berjuang keras demi pendidikan. Dari Aek Kanopan ke Sarolangun, dari bangku sekolah hingga menjadi ketua mahasiswa di UKSW saat era reformasi. Hidupnya adalah perjalanan disiplin, tanggung jawab, dan kerja keras yang diwariskan tanpa banyak kata, melainkan lewat sikap sehari-hari. Ia menuliskan itu dilembar kertas kerja tugas bahasa Indonesia-nya.

Minggu, 31 Agustus 2025

Dari Bocah Tanpa Ekspresi, Menjadi Pengejar Mimpi



Delapan belas tahun lalu, seorang putri kecil hadir dalam hidupku. Waktu terasa berjalan begitu cepat. Anak yang dulu kukira masih harus kugandeng ke mana-mana, kini sudah menjelma menjadi seorang mahasiswi di fakultas teknik.

Aku masih ingat betul masa kecilnya. Di mata teman-teman kerjaku, ia dikenal sebagai bocah tanpa ekspresi. Mereka sering kebingungan: "Sebenarnya, dia senang atau tidak ya?" Bahkan saat menerima sesuatu, wajahnya tetap datar. Tapi aku tahu, di balik ketenangannya, selalu ada binar kecil yang sulit orang lain tangkap.

Sering kali ia kuajak ikut ke sekolah tempatku mengajar di Jakarta Pusat. Setiap kali kuucapkan, "Besok ikut Papa," ia langsung bersemangat. Padahal harus bangun sangat pagi. Ajaibnya, kalau untuk itu, ia tak pernah sulit dibangunkan. Di balik wajah tenangnya, rupanya tersimpan kegembiraan yang begitu tulus—tentang kebersamaan, tentang dunia yang ia jelajahi dengan caranya sendiri.

Kini, gadis itu telah beranjak dewasa. Ia memilih merantau ke Solo, kota asal kakek-neneknya, tempat ayah dan ibuku dilahirkan. Awalnya, jujur aku sempat ragu. Bukan hanya soal merantau jauh dari rumah, tetapi juga tentang jurusan yang ia pilih. Teknik bukanlah jalan yang mudah. Tapi lambat laun aku belajar: keyakinan yang ia miliki jauh lebih kuat daripada keraguanku.

Hari ini aku menyadari, keputusannya bukan sekadar tentang jurusan, tetapi tentang keberanian menapaki jalan hidupnya sendiri. Ia membuktikan bahwa ekspresi bukanlah ukuran dari semangat. Diamnya bukan berarti ragu, justru di situlah ia menyimpan tekad yang mendalam.

Putri kecilku, yang dulu kuajak ke sekolah, kini sedang menapaki ruang hidupnya sendiri. Ia bukan lagi sekadar gadis kecil tanpa ekspresi, melainkan seorang pejuang muda yang sedang merengkuh mimpi.

Dan aku, sebagai ayah, hanya bisa belajar satu hal darinya: bahwa anak bukanlah salinan orangtuanya. Mereka adalah jiwa-jiwa yang akan menulis kisahnya sendiri. Tugas kita hanyalah mendampingi, merangkul, dan percaya.

Karena pada akhirnya, anak-anak kita lah yang akan menunjukkan: mereka bisa lebih berani, lebih tangguh, dan lebih besar daripada apa yang kita bayangkan.

Minggu, 24 Agustus 2025

Anak Tidak Butuh Orang Tua Sempurna

 

Di sekolah tempat saya mengajar, anak-anak saya juga ikut belajar. Tidak jarang, ada guru lain yang mendekati saya, bercerita tentang mereka. Kadang dengan nada kagum, kadang hanya sekadar membagi kisah kecil tentang sikap mereka di kelas. Ada juga yang sampai bertanya, bagaimana sebenarnya cara kami mendidik mereka.

Setiap kali pertanyaan itu datang, saya selalu tersenyum. Jawaban saya sederhana: sama saja seperti orang tua yang lain. Kami pun pernah marah, pernah tegas, bahkan mungkin tanpa sengaja menyakiti mereka. Kami bukan keluarga sempurna. Ada hari-hari penuh tawa, tapi ada juga hari dengan bentakan atau air mata.

Rabu, 20 Agustus 2025

Mengikat Kenangan di Kota Budaya: Saat Kos Jadi Alasan, Kebersamaan Jadi Tujuan




     

Pertengahan Juni, Solo menyambut kami bukan hanya dengan pencarian kos untuk anak sulung, tapi juga dengan cerita kebersamaan. Dari lorong Kampung Batik Kauman, segarnya es dawet di Pasar Gede, hingga ibadah di Gladak—kami belajar, tujuan bisa bergeser, tapi kebersamaan selalu jadi inti perjalanan.


    Liburan kali ini membawa kami sekeluarga ke Kota Solo, sebuah kota yang hangat dan sarat dengan cerita. Tujuan utama kami sebenarnya sederhana: mencari kos untuk anak sulung yang akan segera memulai kuliah di Universitas Sebelas Maret. Namun, Tuhan memberikan lebih dari itu. Perjalanan ini berubah menjadi kesempatan berharga untuk menikmati kebersamaan, berjalan pelan-pelan di jalanan Solo, dan menyelami keindahan budaya yang ditawarkan kota ini.