Selasa, 17 Februari 2026

Kemewahan Menjadi Tidak Tahu

 

Ilustrasi Gemini AI

Tiga puluh tahun yang lalu, di sebuah dusun di pedalaman Jambi yang dikepung rimbun hijau dan keterbatasan informasi, saya memiliki satu harta karun yang tidak saya sadari: Ketidaktahuan.

Hari ini, di era di mana informasi membanjiri saku setiap orang, ketidaktahuan dianggap sebagai bencana atau keterbelakangan. Namun, jika saya menengok ke belakang, ke sosok remaja yang baru saja menuntaskan SMA di sekolah dusun itu, saya menyadari bahwa ketidaktahuanlah yang memberi saya keberanian yang melampaui logika.

Kala itu, akses informasi tidak semudah menggerakkan jempol di atas layar. Berita tentang dunia luar, tentang universitas, atau tentang megahnya pendidikan di Pulau Jawa, sampai ke telinga kami dalam potongan-potongan yang samar dan pudar. Bagi saya yang lahir di pedalaman Sumatera Utara dan besar di tanah Jambi, universitas adalah sebuah kata suci, namun abstrak.

Saya tidak tahu bahwa kuliah itu mahal. Saya tidak tahu bahwa di balik gedung-gedung tinggi universitas di Jawa, ada angka-angka biaya semesteran yang sanggup meruntuhkan nyali seorang anak petani. Saya tidak tahu bahwa UKSW di Salatiga, tempat yang saya tuju, adalah institusi yang bagi ukuran ekonomi keluarga kami saat itu, mungkin serupa dengan pungguk yang merindukan bulan.

Tetapi, justru karena saya "buta" akan statistik kemiskinan dan kalkulasi beban materi, saya tidak memiliki celah untuk ragu.

Ketidaktahuan itu bekerja seperti perisai. Ia melindungi mimpi saya dari polusi realita yang sering kali mematikan langkah sebelum dimulai. Di mata saya saat itu, pendidikan adalah jalan keluar, dan jalan itu terbuka lebar hanya karena saya tidak melihat tembok besar bernama "biaya" yang berdiri di depannya. Saya melangkah dengan ringan karena saya tidak memikul beban ketakutan akan kegagalan finansial yang seharusnya logis saya rasakan.

Ada semacam keberanian naif yang hanya dimiliki oleh mereka yang terbatas informasinya. Kami, anak-anak dusun saat itu, tidak sibuk membandingkan diri dengan standar hidup orang lain di kota besar. Kami hanya punya keyakinan—sebuah keyakinan yang mungkin dianggap absurd oleh mesin atau algoritma hari ini. Jika saja saat itu saya tahu betapa beratnya perjuangan yang menanti, betapa mewahnya pendidikan yang saya sasar, mungkin kaki saya akan kaku di tanah Jambi.

Tiga puluh tahun kemudian, saya memahami satu hal: sering kali, pengetahuan yang terlalu banyak tentang risiko justru menjadi penjara yang membuat kita tak pernah berani melangkah dari zona nyaman.

Saya berterima kasih pada keterbatasan informasi di masa lalu. Ia telah memaksa saya untuk tidak menggunakan logika angka, melainkan logika iman dan ketekunan. Ternyata, untuk sampai ke seberang samudera, kita tidak selalu butuh peta yang detail hingga ke kerikil terkecilnya. Kadang, kita hanya butuh sedikit ketidaktahuan untuk membuat kita berani mendorong sekoci pertama kali ke tengah ombak.

Sebab di titik itulah, saat logika manusia menemui jalan buntu, keajaiban-keajaiban yang tidak tercatat dalam brosur biaya kuliah mulai bekerja. Dari Jambi ke Salatiga, saya belajar satu hal: Tuhan sering kali bekerja di ruang-ruang yang tidak terjangkau oleh logika biaya.

Sabtu, 20 September 2025

Bonsai: Hobi, Kontemplasi, dan Investasi Pensiun

 


Saya punya hobi berkebun. Awalnya, menanam sayur, bunga, dan tanaman umur pendek lainnya di lahan yang sangat terbatas. Rasanya menyenangkan bisa melihat benih tumbuh menjadi hijau, kemudian panen meski hanya secuil. Tetapi, ada satu masalah yang sering muncul: tubuh tak selalu sanggup untuk merawatnya.

Rutinitas dari subuh hingga magrib sudah cukup menguras tenaga. Kadang Sabtu pun masih harus berangkat kerja. Pulang ke rumah, badan sudah lelah tak tertahankan. Harapan bisa berbagi peran dengan anak atau istri untuk ikut merawat tanaman pun sering berakhir sama: kelelahan.

Masalahnya, tanaman-tanaman itu manja. Tidak disiram satu atau dua hari saja, keesokan paginya sudah layu. Kalau dibiarkan, bisa gagal panen. Dari situlah saya mulai berpikir ulang: mungkinkah ada jenis tanaman yang lebih “sabar” terhadap kesibukan saya?

Selasa, 16 September 2025

Ketika Oncom Memisahkan, Jengkol Menyatukan

 


Aku dan istriku itu ibarat dua aplikasi yang nggak kompatibel, tapi entah kenapa kalau dipaksa buka bareng, malah jadi seru. Dari soal makanan aja, udah beda dunia. Dia bisa bahagia luar biasa ketemu pasta, kwetiaw, atau oncom. Aku? Paling banter soto dan nasi hangat plus panggang. Kalau ada oncom di meja, mending aku bikin mie goreng instan.

Tapi anehnya, ada satu makanan yang bikin kami seperti menemukan bahasa yang sama: jengkol. Bayangkan, semua perbedaan bisa hilang begitu piring jengkol mendarat. Yang biasanya debat soal “makan di luar atau masak sendiri,” tiba-tiba berubah jadi “ayo bareng-bareng serbu jengkol.” Romantis? Entahlah. Tapi jelas aromanya nggak bisa bohong: kami bersatu.

Sabtu, 13 September 2025

Pelukan Sebelum Tidur: Jejak Hangat yang Tak Pernah Hilang

 


“Selamat tidur, Mama. Selamat tidur, Papa.”

Kalimat sederhana yang dulu selalu terdengar setiap malam di rumah kami. Diiringi pelukan kecil dari tangan-tangan mungil yang kini telah beranjak remaja. Seingatku, kebiasaan itu mulai memudar ketika mereka masuk bangku SMP—bukan karena cinta yang berkurang, mungkin hanya karena mereka merasa sudah “dewasa”. Namun jauh di dalam hati, aku yakin pelukan-pelukan kecil itu meninggalkan jejak yang dalam.

Dari sudut pandang psikologis, pelukan pada anak bukan sekadar sentuhan fisik. Sentuhan lembut dan penuh kasih itu menstimulasi produksi hormon oksitosin—hormon yang sering disebut sebagai “hormon cinta”. Oksitosin membantu menurunkan kadar stres, memperkuat rasa aman, dan membangun ikatan emosional yang kuat antara anak dan orang tua. Saat anak merasa diterima dan dicintai, mereka tumbuh dengan rasa percaya diri yang lebih baik, dan memiliki kemampuan lebih besar untuk membangun hubungan yang sehat di kemudian hari.

Rabu, 10 September 2025

Kenapa Anak Zaman Sekarang Suka Jawab Kalau Dimarahin?




 

Dulu, waktu aku masih kecil, setiap kali orang tua menegur, biasanya aku hanya diam. Rasanya tidak ada pilihan lain selain menerima. Teguran dianggap sebagai kebenaran mutlak yang tidak bisa diganggu gugat. Namun, anak-anak sekarang—khususnya generasi Z—punya cara berbeda. Setiap kali ditegur, mereka hampir selalu punya jawaban.

Anak nomer duaku, tidak terkecuali. Saat aku atau mamanya menegur, ia sering menanggapi dengan alasan-alasan yang menurutnya masuk akal. Kadang ia terdengar serius, kadang lucu, kadang juga membuat kami justru tambah marah. Terus terang, perilaku itu sering menyebalkan, karena di mataku dan mamanya, teguran mestinya diterima, bukan dibalas. Tapi ketika kutanya kenapa ia melakukannya, jawabannya sederhana: “Biar nggak stres.”

Kalimat itu membuatku berpikir. Mungkin benar, generasi ini sedang berusaha menjaga diri. Mereka tumbuh di tengah banyak tekanan: sekolah dengan target tinggi, informasi yang datang tanpa henti, tuntutan dari media sosial, juga harapan orang tua. Menjawab teguran bagi mereka bukan sekadar mencari alasan, melainkan cara untuk melepaskan sedikit beban di hati.