Dulu, waktu aku masih kecil, setiap kali orang tua menegur, biasanya aku hanya diam. Rasanya tidak ada pilihan lain selain menerima. Teguran dianggap sebagai kebenaran mutlak yang tidak bisa diganggu gugat. Namun, anak-anak sekarang—khususnya generasi Z—punya cara berbeda. Setiap kali ditegur, mereka hampir selalu punya jawaban.
Anak nomer duaku, tidak terkecuali. Saat aku atau mamanya menegur, ia sering menanggapi dengan alasan-alasan yang menurutnya masuk akal. Kadang ia terdengar serius, kadang lucu, kadang juga membuat kami justru tambah marah. Terus terang, perilaku itu sering menyebalkan, karena di mataku dan mamanya, teguran mestinya diterima, bukan dibalas. Tapi ketika kutanya kenapa ia melakukannya, jawabannya sederhana: “Biar nggak stres.”
Kalimat itu membuatku berpikir. Mungkin benar, generasi ini sedang berusaha menjaga diri. Mereka tumbuh di tengah banyak tekanan: sekolah dengan target tinggi, informasi yang datang tanpa henti, tuntutan dari media sosial, juga harapan orang tua. Menjawab teguran bagi mereka bukan sekadar mencari alasan, melainkan cara untuk melepaskan sedikit beban di hati.