Rabu, 10 September 2025

Kenapa Anak Zaman Sekarang Suka Jawab Kalau Dimarahin?




 

Dulu, waktu aku masih kecil, setiap kali orang tua menegur, biasanya aku hanya diam. Rasanya tidak ada pilihan lain selain menerima. Teguran dianggap sebagai kebenaran mutlak yang tidak bisa diganggu gugat. Namun, anak-anak sekarang—khususnya generasi Z—punya cara berbeda. Setiap kali ditegur, mereka hampir selalu punya jawaban.

Anak nomer duaku, tidak terkecuali. Saat aku atau mamanya menegur, ia sering menanggapi dengan alasan-alasan yang menurutnya masuk akal. Kadang ia terdengar serius, kadang lucu, kadang juga membuat kami justru tambah marah. Terus terang, perilaku itu sering menyebalkan, karena di mataku dan mamanya, teguran mestinya diterima, bukan dibalas. Tapi ketika kutanya kenapa ia melakukannya, jawabannya sederhana: “Biar nggak stres.”

Kalimat itu membuatku berpikir. Mungkin benar, generasi ini sedang berusaha menjaga diri. Mereka tumbuh di tengah banyak tekanan: sekolah dengan target tinggi, informasi yang datang tanpa henti, tuntutan dari media sosial, juga harapan orang tua. Menjawab teguran bagi mereka bukan sekadar mencari alasan, melainkan cara untuk melepaskan sedikit beban di hati.

Minggu, 07 September 2025

Sepenggal Cerita di Jalan Pulang



 Di antara padatnya jalan pulang sekolah, ada ruang kecil yang seringkali terisi oleh cerita. Bukan cerita besar yang akan masuk buku sejarah, bukan pula kisah dramatis yang mengguncang dunia. Hanya obrolan sederhana, kadang berulang, kadang dianggap menyebalkan. Namun justru di situlah sebuah kenangan perlahan disulam.

Amazia duduk di kursi samping, matanya berat menahan kantuk, sementara Aku sambil menyetir tak pernah kehabisan bahan cerita. Kisah-kisah itu mengalir tanpa jeda, seolah jalanan macet adalah panggung. Bagi Amazia, kadang cerita itu terasa mengganggu, apalagi saat lelah menumpuk. Tapi di balik kejengkelan kecilnya, ada sesuatu yang diam-diam ia simpan.

Julius Deliawan, bukan hanya seorang guru sejarah, Ia adalah pengajar kehidupan di dalam keluarganya. Sejak muda, Julius sudah terbiasa berpindah tempat, menyesuaikan diri, dan berjuang keras demi pendidikan. Dari Aek Kanopan ke Sarolangun, dari bangku sekolah hingga menjadi ketua mahasiswa di UKSW saat era reformasi. Hidupnya adalah perjalanan disiplin, tanggung jawab, dan kerja keras yang diwariskan tanpa banyak kata, melainkan lewat sikap sehari-hari. Ia menuliskan itu dilembar kertas kerja tugas bahasa Indonesia-nya.

Rabu, 03 September 2025

Dari Rayap ke Solo: Kisah Kecil yang Tak Pernah Selesai

 


Ada satu kenangan masa kecil anakku yang selalu muncul setiap kali aku memikirkan perjalanan tumbuhnya. Kenangan itu sederhana saja, tapi entah kenapa menempel kuat, bahkan sampai hari ini, ketika ia sudah beranjak dewasa dan memilih merantau untuk belajar di Solo.

Waktu itu ia masih duduk di TK B. Baru bisa membaca dengan lancar, dan setiap kata baru yang ditemuinya selalu berubah menjadi pertanyaan. Suatu sore, ia mengeja tulisan “anti rayap” di sebuah brosur. Dengan mata berbinar ia bertanya,

“Papa, rayap itu apa?”

Aku menjawab santai, “Rayap itu binatang kecil yang suka makan kayu.”
Ia manggut-manggut, lalu kembali bermain. Selesai, pikirku.

Ternyata tidak. Beberapa hari kemudian, ia datang lagi dengan wajah penuh rasa ingin tahu.

“Binatang buas itu apa, Papa?”

Aku pun menyebut singa, harimau, buaya. Semua contoh binatang yang jelas menakutkan. Tapi tiba-tiba ia menimpali dengan yakin,

“Tapi menurutku, rayap juga binatang buas.”

Minggu, 31 Agustus 2025

Dari Bocah Tanpa Ekspresi, Menjadi Pengejar Mimpi



Delapan belas tahun lalu, seorang putri kecil hadir dalam hidupku. Waktu terasa berjalan begitu cepat. Anak yang dulu kukira masih harus kugandeng ke mana-mana, kini sudah menjelma menjadi seorang mahasiswi di fakultas teknik.

Aku masih ingat betul masa kecilnya. Di mata teman-teman kerjaku, ia dikenal sebagai bocah tanpa ekspresi. Mereka sering kebingungan: "Sebenarnya, dia senang atau tidak ya?" Bahkan saat menerima sesuatu, wajahnya tetap datar. Tapi aku tahu, di balik ketenangannya, selalu ada binar kecil yang sulit orang lain tangkap.

Sering kali ia kuajak ikut ke sekolah tempatku mengajar di Jakarta Pusat. Setiap kali kuucapkan, "Besok ikut Papa," ia langsung bersemangat. Padahal harus bangun sangat pagi. Ajaibnya, kalau untuk itu, ia tak pernah sulit dibangunkan. Di balik wajah tenangnya, rupanya tersimpan kegembiraan yang begitu tulus—tentang kebersamaan, tentang dunia yang ia jelajahi dengan caranya sendiri.

Kini, gadis itu telah beranjak dewasa. Ia memilih merantau ke Solo, kota asal kakek-neneknya, tempat ayah dan ibuku dilahirkan. Awalnya, jujur aku sempat ragu. Bukan hanya soal merantau jauh dari rumah, tetapi juga tentang jurusan yang ia pilih. Teknik bukanlah jalan yang mudah. Tapi lambat laun aku belajar: keyakinan yang ia miliki jauh lebih kuat daripada keraguanku.

Hari ini aku menyadari, keputusannya bukan sekadar tentang jurusan, tetapi tentang keberanian menapaki jalan hidupnya sendiri. Ia membuktikan bahwa ekspresi bukanlah ukuran dari semangat. Diamnya bukan berarti ragu, justru di situlah ia menyimpan tekad yang mendalam.

Putri kecilku, yang dulu kuajak ke sekolah, kini sedang menapaki ruang hidupnya sendiri. Ia bukan lagi sekadar gadis kecil tanpa ekspresi, melainkan seorang pejuang muda yang sedang merengkuh mimpi.

Dan aku, sebagai ayah, hanya bisa belajar satu hal darinya: bahwa anak bukanlah salinan orangtuanya. Mereka adalah jiwa-jiwa yang akan menulis kisahnya sendiri. Tugas kita hanyalah mendampingi, merangkul, dan percaya.

Karena pada akhirnya, anak-anak kita lah yang akan menunjukkan: mereka bisa lebih berani, lebih tangguh, dan lebih besar daripada apa yang kita bayangkan.

Rabu, 27 Agustus 2025

Membaca Ibu Lewat Tulisan Anakku

 


   Setiap cucu memiliki cara unik mengenang neneknya. Bagi Eluzai, kenangan itu lahir dalam bentuk tulisan sederhana yang justru menyimpan makna mendalam. Saat aku membacanya, aku seakan diajak kembali pada jejak kehidupan ibuku—dari dapur, ruang jahit, hingga lantai tari—yang kini hidup lewat mata cucunya.

     Sebagai seorang ayah, membaca tulisan Eluzai tentang neneknya, ibuku sendiri, membawa aku pada perasaan yang dalam dan bercampur aduk. Ada rasa haru, bangga, sekaligus kagum, bukan hanya pada almarhumah ibuku, tetapi juga pada bagaimana seorang cucu mampu merekam jejak kehidupan neneknya dalam bentuk tulisan yang begitu jujur. Tulisan Eluzai ini bagiku lebih dari sekadar tugas sekolah. Ia adalah cermin dari sebuah keterhubungan batin antara cucu dan neneknya yang melampaui jarak usia.

    Aku terkesan bagaimana Eluzai menangkap sisi-sisi sederhana dari ibuku, yang bagi sebagian orang mungkin terlihat biasa, namun baginya justru meninggalkan kesan mendalam. Ia menulis tentang kebiasaan memasak neneknya, tentang tangan terampil yang menjahitkan seragam sekolah, atau tentang cara neneknya mengajarkan tari. Dari hal-hal sederhana itulah terjalin ikatan emosional yang kuat antara keduanya. Aku melihat, di balik deskripsi yang ia buat, ada perasaan hangat yang tulus, seolah ia sedang berbicara langsung dengan neneknya, bukan sekadar menuliskan data biografis.