![]() |
| Ilustrasi Gemini AI |
Tiga puluh tahun yang lalu, di sebuah dusun di pedalaman Jambi yang dikepung rimbun hijau dan keterbatasan informasi, saya memiliki satu harta karun yang tidak saya sadari: Ketidaktahuan.
Hari ini, di era di mana informasi membanjiri saku setiap orang, ketidaktahuan dianggap sebagai bencana atau keterbelakangan. Namun, jika saya menengok ke belakang, ke sosok remaja yang baru saja menuntaskan SMA di sekolah dusun itu, saya menyadari bahwa ketidaktahuanlah yang memberi saya keberanian yang melampaui logika.
Kala itu, akses informasi tidak semudah menggerakkan jempol di atas layar. Berita tentang dunia luar, tentang universitas, atau tentang megahnya pendidikan di Pulau Jawa, sampai ke telinga kami dalam potongan-potongan yang samar dan pudar. Bagi saya yang lahir di pedalaman Sumatera Utara dan besar di tanah Jambi, universitas adalah sebuah kata suci, namun abstrak.
Saya tidak tahu bahwa kuliah itu mahal. Saya tidak tahu bahwa di balik gedung-gedung tinggi universitas di Jawa, ada angka-angka biaya semesteran yang sanggup meruntuhkan nyali seorang anak petani. Saya tidak tahu bahwa UKSW di Salatiga, tempat yang saya tuju, adalah institusi yang bagi ukuran ekonomi keluarga kami saat itu, mungkin serupa dengan pungguk yang merindukan bulan.
Tetapi, justru karena saya "buta" akan statistik kemiskinan dan kalkulasi beban materi, saya tidak memiliki celah untuk ragu.
Ketidaktahuan itu bekerja seperti perisai. Ia melindungi mimpi saya dari polusi realita yang sering kali mematikan langkah sebelum dimulai. Di mata saya saat itu, pendidikan adalah jalan keluar, dan jalan itu terbuka lebar hanya karena saya tidak melihat tembok besar bernama "biaya" yang berdiri di depannya. Saya melangkah dengan ringan karena saya tidak memikul beban ketakutan akan kegagalan finansial yang seharusnya logis saya rasakan.
Ada semacam keberanian naif yang hanya dimiliki oleh mereka yang terbatas informasinya. Kami, anak-anak dusun saat itu, tidak sibuk membandingkan diri dengan standar hidup orang lain di kota besar. Kami hanya punya keyakinan—sebuah keyakinan yang mungkin dianggap absurd oleh mesin atau algoritma hari ini. Jika saja saat itu saya tahu betapa beratnya perjuangan yang menanti, betapa mewahnya pendidikan yang saya sasar, mungkin kaki saya akan kaku di tanah Jambi.
Tiga puluh tahun kemudian, saya memahami satu hal: sering kali, pengetahuan yang terlalu banyak tentang risiko justru menjadi penjara yang membuat kita tak pernah berani melangkah dari zona nyaman.
Saya berterima kasih pada keterbatasan informasi di masa lalu. Ia telah memaksa saya untuk tidak menggunakan logika angka, melainkan logika iman dan ketekunan. Ternyata, untuk sampai ke seberang samudera, kita tidak selalu butuh peta yang detail hingga ke kerikil terkecilnya. Kadang, kita hanya butuh sedikit ketidaktahuan untuk membuat kita berani mendorong sekoci pertama kali ke tengah ombak.
Sebab di titik itulah, saat logika manusia menemui jalan buntu, keajaiban-keajaiban yang tidak tercatat dalam brosur biaya kuliah mulai bekerja. Dari Jambi ke Salatiga, saya belajar satu hal: Tuhan sering kali bekerja di ruang-ruang yang tidak terjangkau oleh logika biaya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar