Sabtu, 20 September 2025

Bonsai: Hobi, Kontemplasi, dan Investasi Pensiun

 


Saya punya hobi berkebun. Awalnya, menanam sayur, bunga, dan tanaman umur pendek lainnya di lahan yang sangat terbatas. Rasanya menyenangkan bisa melihat benih tumbuh menjadi hijau, kemudian panen meski hanya secuil. Tetapi, ada satu masalah yang sering muncul: tubuh tak selalu sanggup untuk merawatnya.

Rutinitas dari subuh hingga magrib sudah cukup menguras tenaga. Kadang Sabtu pun masih harus berangkat kerja. Pulang ke rumah, badan sudah lelah tak tertahankan. Harapan bisa berbagi peran dengan anak atau istri untuk ikut merawat tanaman pun sering berakhir sama: kelelahan.

Masalahnya, tanaman-tanaman itu manja. Tidak disiram satu atau dua hari saja, keesokan paginya sudah layu. Kalau dibiarkan, bisa gagal panen. Dari situlah saya mulai berpikir ulang: mungkinkah ada jenis tanaman yang lebih “sabar” terhadap kesibukan saya?

Selasa, 16 September 2025

Ketika Oncom Memisahkan, Jengkol Menyatukan

 


Aku dan istriku itu ibarat dua aplikasi yang nggak kompatibel, tapi entah kenapa kalau dipaksa buka bareng, malah jadi seru. Dari soal makanan aja, udah beda dunia. Dia bisa bahagia luar biasa ketemu pasta, kwetiaw, atau oncom. Aku? Paling banter soto dan nasi hangat plus panggang. Kalau ada oncom di meja, mending aku bikin mie goreng instan.

Tapi anehnya, ada satu makanan yang bikin kami seperti menemukan bahasa yang sama: jengkol. Bayangkan, semua perbedaan bisa hilang begitu piring jengkol mendarat. Yang biasanya debat soal “makan di luar atau masak sendiri,” tiba-tiba berubah jadi “ayo bareng-bareng serbu jengkol.” Romantis? Entahlah. Tapi jelas aromanya nggak bisa bohong: kami bersatu.

Sabtu, 13 September 2025

Pelukan Sebelum Tidur: Jejak Hangat yang Tak Pernah Hilang

 


“Selamat tidur, Mama. Selamat tidur, Papa.”

Kalimat sederhana yang dulu selalu terdengar setiap malam di rumah kami. Diiringi pelukan kecil dari tangan-tangan mungil yang kini telah beranjak remaja. Seingatku, kebiasaan itu mulai memudar ketika mereka masuk bangku SMP—bukan karena cinta yang berkurang, mungkin hanya karena mereka merasa sudah “dewasa”. Namun jauh di dalam hati, aku yakin pelukan-pelukan kecil itu meninggalkan jejak yang dalam.

Dari sudut pandang psikologis, pelukan pada anak bukan sekadar sentuhan fisik. Sentuhan lembut dan penuh kasih itu menstimulasi produksi hormon oksitosin—hormon yang sering disebut sebagai “hormon cinta”. Oksitosin membantu menurunkan kadar stres, memperkuat rasa aman, dan membangun ikatan emosional yang kuat antara anak dan orang tua. Saat anak merasa diterima dan dicintai, mereka tumbuh dengan rasa percaya diri yang lebih baik, dan memiliki kemampuan lebih besar untuk membangun hubungan yang sehat di kemudian hari.

Rabu, 10 September 2025

Kenapa Anak Zaman Sekarang Suka Jawab Kalau Dimarahin?




 

Dulu, waktu aku masih kecil, setiap kali orang tua menegur, biasanya aku hanya diam. Rasanya tidak ada pilihan lain selain menerima. Teguran dianggap sebagai kebenaran mutlak yang tidak bisa diganggu gugat. Namun, anak-anak sekarang—khususnya generasi Z—punya cara berbeda. Setiap kali ditegur, mereka hampir selalu punya jawaban.

Anak nomer duaku, tidak terkecuali. Saat aku atau mamanya menegur, ia sering menanggapi dengan alasan-alasan yang menurutnya masuk akal. Kadang ia terdengar serius, kadang lucu, kadang juga membuat kami justru tambah marah. Terus terang, perilaku itu sering menyebalkan, karena di mataku dan mamanya, teguran mestinya diterima, bukan dibalas. Tapi ketika kutanya kenapa ia melakukannya, jawabannya sederhana: “Biar nggak stres.”

Kalimat itu membuatku berpikir. Mungkin benar, generasi ini sedang berusaha menjaga diri. Mereka tumbuh di tengah banyak tekanan: sekolah dengan target tinggi, informasi yang datang tanpa henti, tuntutan dari media sosial, juga harapan orang tua. Menjawab teguran bagi mereka bukan sekadar mencari alasan, melainkan cara untuk melepaskan sedikit beban di hati.

Minggu, 07 September 2025

Sepenggal Cerita di Jalan Pulang



 Di antara padatnya jalan pulang sekolah, ada ruang kecil yang seringkali terisi oleh cerita. Bukan cerita besar yang akan masuk buku sejarah, bukan pula kisah dramatis yang mengguncang dunia. Hanya obrolan sederhana, kadang berulang, kadang dianggap menyebalkan. Namun justru di situlah sebuah kenangan perlahan disulam.

Amazia duduk di kursi samping, matanya berat menahan kantuk, sementara Aku sambil menyetir tak pernah kehabisan bahan cerita. Kisah-kisah itu mengalir tanpa jeda, seolah jalanan macet adalah panggung. Bagi Amazia, kadang cerita itu terasa mengganggu, apalagi saat lelah menumpuk. Tapi di balik kejengkelan kecilnya, ada sesuatu yang diam-diam ia simpan.

Julius Deliawan, bukan hanya seorang guru sejarah, Ia adalah pengajar kehidupan di dalam keluarganya. Sejak muda, Julius sudah terbiasa berpindah tempat, menyesuaikan diri, dan berjuang keras demi pendidikan. Dari Aek Kanopan ke Sarolangun, dari bangku sekolah hingga menjadi ketua mahasiswa di UKSW saat era reformasi. Hidupnya adalah perjalanan disiplin, tanggung jawab, dan kerja keras yang diwariskan tanpa banyak kata, melainkan lewat sikap sehari-hari. Ia menuliskan itu dilembar kertas kerja tugas bahasa Indonesia-nya.